Gerak Padu Turonggo Seto Milenial Tampil di Apitan Sampangan

SEMARANG – Apitan merupakan kedekatan masyarakat Jawa dengan alam bukan dalam tataran ritual saja, tapi dijadikan syarat bagi nilai teologis, karena hampir semua tradisi islam dijawa merupakan produk Wali Songo yang dibungkus dengan ajaran Islam.

Pada peringatan Apitan atau sedekah bumi Kelurahan Sampangan, paguyuban kesenian jaran kepang Turonggo Seto merupakan paguyuban kesenian tradisional yang dinantikan penampilannya.

Sabtu (8/6) Turonggo Seto meramaikan rangkaian acara Apitan atau sedekah bumi dilapangan Mitra Sampangan Jl menoreh Utara XII Sampangan Kecamatan Gajahmungkur Kota Semarang, rangkaian acara Tersebut ditutup dengan pertunjukan wayang kulit dihalaman Kelurahan Sampangan dimalam harinya.

Pada pementasan kali ini ada 2 sesi dengan memberi panggung kepada Turonggo Seto muda atau Milineal untuk Tampil terlebih dahulu.

Dari mulai para pengrawit sampai penari semua dimainkan oleh anak-anak Warga Sampangan dilatih oleh Seto Wibowo para pemain kompak dan harmonis serta padu dalam musik dan gerak.

Menurut Untung Ketua Turonggo Seto “Ini hal yang sangat positif, anak-anak ini merupakan penerus dari pelaku seni jaran kepang yang saat ini masih bertahan, mereka generasi muda yang cinta budaya.”

“Menjaga tradisi ini tidak gampang, banyak pengorbanan yang harus dilakukan, seperti waktu, tenaga pikiran bahkan kadang para pelaku seni juga mengeluarkan uang untuk mendukung semua ini” terang untung.

Melatih anak-anak pasti penuh dengan kesabaran, dedikasi yang tinggi, dan yang sangat sulit mengajak dan konsisten berlatih, dan ini berhasil dilakukan oleh pelatih Turonggo Seto Milenial ini.

H. Rofi’i Penasehat Turonggo Seto juga memberi apresiasi kepada tema Turonggo Seto muda “Anak-anak menabuh gamelan dengan mengiringi penari, kekompakan para penari, perpaduan musik dan gerak, koreografi yang ditampilkan anak-anak saat ini sangat bagus”

Menurut Rofi’i ini perlu terus ditingkatkan dan diberi kesempatan lebih luas untuk tampil, dan semoga mereka siap apabila ada event baik lokal ataupun daerah untuk mengasah dan menimba pengalaman anak-anak.

“Kendala terbesar Saat ini dari pengurus dan semua pelaku seni jaran kepang Turonggo Seto adalah segi finansial, harapan kami terdekat kita bisa ikut program pemerintah dengan mencatatkan paguyuban ini ke kesbangpol dan kedinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Semarang.” tambah untung

Riri (32) ibu muda beserta suami dan anaknya Warga Panjangan Kelurahan Manyaran kecamatan Semarang Barat sengaja datang menonton penampilan jaran kepang ini di Sampangan.

“Saya melihat informasi penampilan jaran kepang Turonggo Seto ini dari media sosial yang diposting pengurus Paguyuban digroup Facebook, dan ini kan jarang ada di Semarang, dan yang saya tahu Hanya di Sampangan yang masih ada dan sering ditampilkan” ulas Riri.

“Dan setiap tampil selalu ramai dan berjibel, ini sangat bagus menjadi hiburan rakyat dan sekaligus nguri-nguri budaya asli jawa, dan harapan kami semoga Turonggo Seto ini terus ada agar anak cucu nanti mengenal dan bisa melihat langsung tradisi ini.” pungkas Riri. (Oman)