Makam KH. Soleh Darat Destinasi Wisata Religi Dikota Semarang

KH. Sholeh Darat Ulama Khatimatik di Kota Semarang

SEMARANG – Ibu kota Jawa Tengah tidak hanya memiliki destinasi wisata peninggalan kolonial Belanda dan destinasi Alamnya yang indah, tetapi juga memiliki destinasi wisata religi yang tidak pernah sepi dari peziarah.

Tempatnya di tengah kota dan berada makam terbesar yang ada di Kota Semarang yaitu TPU Bergota berlokasi sepanjang jalan Kyai Saleh ada makam Kyai Karismatik yakni makam Muhammad Sholih as-Samarani atau yang populer dikenal dengan Kiai Sholeh Darat.

Diolah berbagai sumber, Kiai Sholeh Darat atau Mbah Sholeh Darat dilahirkan di Desa Kedung Jumbleng, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, pada 1820 silam. Ayahnya adalah Kiai Umar yang merupakan seorang pejuang dan orang kepercayaan Pangeran Diponegoro dipesisir utara Jawa.

Sumartoyo (61) Juru kunci makam Kiai Sholeh Darat mengatakan semasa hidup Mbah Sholeh Darat terkenal sebagai guru para ulama besar dan tokoh pergerakan kemerdekaan. Tokoh-tokoh atau ulama yang pernah berguru padanya antara lain KH Hasyim Asyari pendiri Nahdlatul Ulama (NU), dan KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, hingga Pahlawan R.A. Kartini

Kiai Sholeh Darat Tidak hanya mengajarkan pendidikan agama kepada para ulama besar saja, Ketika masih kecil KH Sholeh Darat mendapat pendidikan awal ilmu agama dan Al-Qur’an dari ayahnya. Setelah itu, KH Sholeh Darat merantau ke beberapa tempat di Jawa untuk menuntut ilmu. semasa muda juga dikenal memiliki penggaruh di Makkah. seperti Syekh Muhammad al-Muqri, Syekh Ahmad Nahrawi, Sulaiman Hasbullah al-Makki, dan Sayyid Ahmad ibn Ziani Dahlan merupakan ulama besar di Tanah Suci kala itu yang juga pernah menjadi guru Kyai Soleh Darat

Pintu masuk menuju makam KH. Sholeh Darat di TPU Bergota Semarang.

Sebelum menimba ilmu ke Makkah Kyai Soleh Darat belajar ilmu fiqih di Pesantren Waturoyo, Kajen, Pati milik Kiai M. Syahid. Selain itu, KH Sholeh Darat juga berguru dengan KH Raden Haji Muhammad Shaleh bin Asnawi di Kudus. KH Sholeh Darat juga berguru ilmu nahwu dan sharaf kepada KH Ishak Damaran di Semarang. Selain KH Ishak Damaran, di Semarang KH Sholeh Darat juga berguru dengan KH. Abu Abdillah Muhammad bin Hadi Buquni, KH. Ahmad Bafaqih Baโ€™alawi, dan Syekh Abdul Ghani Bima. KH Sholeh Darat juga berguru dengan Mbah Ahmad Alim Bulus dari Purworejo mempelajari ilmu tasawuf dan tafsir Al-Qur’an.

KH Sholeh Darat merantau ke Mekkah, Arab Saudi untuk menimba ilmu agama Islam, selama berada di Mekkah, KH Sholeh Darat semakin berkembang pengetahuan ilmunya, hingga ia mendapat pengakuan. KH Sholeh Darat kemudian terpilih menjadi salah satu pengajar di Mekkah. Di saat itulah, KH Sholeh Darat kemudian bertemu dengan Mbah Hadi Girikusumo yang berasal dari Demak.

Pulang Ke Jawa

Mbah Hadi Girikusumo tengah menjalankan ibadah haji ke Tanah Suci ia berasal dari Mranggen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Mbah Hadi inilah yang membujuk Kiai Sholeh Darat untuk pulang ke tanah Jawa. Hal ini dikarenakan, masyarakat di tanah Jawa lebih membutuhkan bimbingan dan ilmu tentang agama dibanding masyarakat Arab Saudi

Awalnya KH Sholeh Darat sempat menolak ajakan Mbah Hadi. Hal itu dikarenakan dirinya masih memiliki keterikatan dengan penguasa Arab Saudi, namun Mbah Hadi Girikusumo tak kehilangan akal. Ia menculik Mbah Sholeh Darat agar kembali ke Tanah Jawa. konon ceritanya Mbah Hadi Girikusumo memasukkan ke peti dan dinaikan ke kapal. Sempat akan ketahuan tapi akhirnya lolos dan bisa pulang sampai Jawa.

Sesampainya di tanah Jawa, Mbah Sholeh Darat pun menyebarkan ilmunya. Ia sempat mengajar di Pesantren Salatiyang, Purworejo, hingga akhirnya mendirikan pesantren baru di Darat, Semarang pada tahun 1870-an, KH Sholeh Darat sibuk dengan urusan dakwah Islam dan menulis berbagai kitab. Salah satu karyanya adalah Kitab Faid Ar-Rahman. Kitab Faid Ar-Rahman merupakan kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an pertama dengan bahasa Jawa yang paling terkenal dari karya KH Sholeh Darat. Kitab inilah yang membuat R.A. Kartini tertarik dan berguru kepada Kiai Sholeh Darat.

Makam ulama terkemuka itu selalu ramai dikunjungi peziarah, baik dari kalangan masyarakat umum hingga pejabat. saat bulan Ruwah atau Syawal sangat ramai, terutama hari Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Selain peziarah lokal ada juga peziarah dari luar negeri seperti Jepang, Malaysia, dan Singapura, Biasanya warga Nadliyin memperingati Haul KH. Soleh Darat pada tanggal 10 Syawal tiap tahunnya.

(Oman)