Gus Najih Kader Muda NU Selamat Perang Di Suriah, Beri Pembekalan Anti Radikal

Muhammad Najih Arromadloni AH saat memaparkan materi anti radikalisme di aula Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang (Foto: Rifqi)

Bankom Semarang News, , SEMARANG – Seorang mufassir (ahli tafsir Al-Qur’an) muda NU yang selamat dari perang di Suriah, Muhammad Najih Arromadhoni mengungkapkan usaha kaum radikal-teror dalam menggulingkan pemerintah yang sah, dari fitnah pemerintah sampai ulama.

Gus Najih, sapaan akrabnya menerangkan hal itu saat memberikan pembekalan anti radikalisme dan hoaz yang digelar Gerakan Masyarakat Anti Radikalisme, Intoleranisme dan SARA (Gema Rasa) di Aula Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, Sabtu (5/6).

Menurutnya pola yang disebarkan oleh para pelaku radikal-teror selalu menggunakan sesuatu yang paling dibenci masyarakat sebagai isu. “Isu yang digunakan untuk menggulingkan pemerintah adalah hasil pemerintah. Syiah dijadikan isu karena paling dibenci, di Indonesia PKI (Partai Komunis Indonesia, -red) dijadikan isu karena masyarakat punya sejarah dan trauma dengan PKI,” ujarnya.

Mereka dengan lantang menuding presiden maupun ulama yang sebenarnya sebagai antek komunis. Bahkan, untuk mendukung agenda politik tersebut, para pelaku teror juga tidak segan melakukan fitnah dengan pelabelan buruk terhadap ulama. Dia sebut contoh Prof Dr KH Quraish Syihab, KH Musthofa Bisri (Gus Mus) dituduh liberal, Prof Dr KH Said Aqil Siraj dituduh Syiah, dan Habib Muhammad Luthfi bin Yahya tokoh Sufi dunia asal Pekalongan dituduh penjilat kekuasaan.

Dengan pelabelan tersebut, lanjut dia, masyarakat diharap tidak percaya terhadap ulama yang sebenarnya. “Padahal Prof Quraish Shihab ini seorang habib, masih keturunan Rasulullah, ketika beliau menerangkan tafsir Al-Qur’an masyaallah, begitu dalam, tapi dilabeli liberal, sesat, ” terangnya.

Untuk menarik minat masyarakat, mereka menciptakan ulama jadi-jadian. Cover majalah berubah diisi ustadz yang tidak jelas kapasitas ilmu agamanya. Umumnya berlatar belakang artis, mantan penyanyi, motivator, dan sejenisnya. “Masyarakat harus kritis, harus paham mana ulama yang sebenarnya dan ulama jadi-jadian,” tegasnya.

Suriah, merupakan sebuah negara yang indah, makmur dan damai lengkap dengan segala perbedaan agama. Dulu, Suriah menjadi pusat peradaban agama-agama. Lingkungan yang damai ini sering memberikan inspirasi sehingga banyak penyair besar lahir karena lingkungan yang damai seperti Kahlil Gibran.

“Negaranya sosialis, tidak terlalu kaya tapi makmur, pendidikan gratis, kesehatan gratis, dan masyarakatnya dermawan, senang bersedekah,” kata pendiri Center of Researce for Islamic Studies Foundation’ (CRIS Foundation) yang merupakan sebuah yayasan yang berorientasi pada bidang penelitian.

“Dulu sangat harmonis, berabad-abad masyarakat di sini (Suriah) hidup dengan harmonis, tidak ada geb sama sekali, dari segi kesejahteraannya dulu negara yang tidak punya hutang, saya termasuk yang dapat beasiswa belajar. Ini dulu sebelum perang,” kata santri yang telah berhasil menamatkam hafalan Al-Qur’an 30 Juz ini melanjutkan.

Negara-negara Timur Tengah yang demikian indah, sambungnya, menjadi hancur tak berbentuk oleh peristiwa yang disebut Arab Springs. Suriah termasuk yang terkena gelombang Arab Spring, sampai terjadi demonstrasi di mana-mana dan berujung pada penggulingan kekuasaan.

“Ini demonstrasi yang terjadi pertama. Demonstrasi gaya baru, dengan simbol bendera yang aneh-aneh seperti bendera tauhid dengan mengusung isu agama. Di era itu demonstrasi dilakukan di masjid, biasanya demo itu di kantor pemerintahan,” ingatnya.

Dai muda yang kini masuk jajaran Pengurus Pusat Majlis Ulama Indonesia (MUI) ini bersyukur selamat dari perang Suriah yang terjadi akibat arus Arab Springs. Meski demikian, ia sangat sedih lantaran kehilangan banyak guru tafsir Al-Qur”an dan Hadist, salah satunya Syaikh Muhammad Adnan Al-Fayouni.

Ia lantas mengungkapkan salah satu peristiwa bom saat pengajian tafsir di masjid. Seseorang yang tidak dikenal tiba-tiba berjalan ke arah Sang Mufti yang tengah mengajar. Pria yang tidak jelas tersebut lantas meledakkan diri setelah berjarak sekira 6 meter dari mimbar. “Peristiwa itu menewaskan teman-teman saya dan guru saya. Seandainya saat itu saya masih berada di sana, tentu saya juga ikut jadi korban,” tuturnya.

Kepada para peserta yang umumnya awam dunia keislaman, Gus Najih mengingatkan bahwa para pelaku aksi teror yang beragama Islam pada umumnya menganut ajaran Wahabi, apa pun bendera dan faksinya. Disebut di antaranya Jama’ah Anshorud Daulah (JAD), Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) atau Islamic State (IS), Al-Qaeda, dan sebagainya. Di Indonesia, pada umumnya berjejaring dari Surakarta atau Solo. “Semua pelaku teror yang tertangkap berjejaring dari Solo,” ungkapnya.

Menurutnya, ideologi Wahabi mampu mendoktrin berbagai lapisan masyarakat, baik akademisi sekaliber profesor dan guru besar Pancasila, praktisi, bahkan tentara sekalipun. Teroris juga tidak pernah memilih korban. Mereka bisa meledakkan bom di masjid, gereja, mall, atau tempat umum lain.

Ia lantas mengingatkan penyimpangan ajaran agama dengan klaim Bendera Rasullullah. Sepanjang sejarah Islam, kata Gus Najih, tidak pernah dikenal istilah Bendera Rasulullah. Ironisnya, mereka yang menggunakan bendera bertuliskan kalimat tauhid satu sama lain saling membunuh. “Karena memang nafsu kekuasaan yang dilabeli agama, bukan ajaran agama,” bebernya menegaskan.

Mereka yang mengaku memperjuangkan khilafah islamiyah itu juga lebih menguntungkan israel dalam aksinya. Disebut di antaranya ISIS dan lainnya tidak pernah menyerang israel. Padahal, berada di dekat Palestina.

Kegiatan yang dilaksanakan dengan protokol kesehatan ketat, lengkap dengan layanan rapid antigen bagi peserta dan tamu undangan ini juga menghadirkan Reserse Kriminal Khusus (Reskrimsus) Kepolisiam Daerah (Polda) Jateng, Iptu Endro Prabowo yang memaparkan sebaran hoax serta cara melakukan klarifikasi atau cek fakta.

Endro Prabowo menyebut isu terbanyak umumnya berorientasi politik yang dibumbui agama seperti pemilu, pilpres, dan kebijakan pemerintah seperti isu haji yang terbaru. Dalam pelaporan, penipuan online dan ujaran kebencian yang gagal diproses hukum karena bukti digital yang mudah dihilangkan pelaku. “Banyak juga yang hanya sekedar melapor, tapi tidak mau memenuhi panggilan kami dengan alasan kerja. Kalai lapor ya harus ikut mengawal prosesnya,” ujarnya.

Terkait dengan peredaran hoax, Endro meminta peran aktif masyarakat untuk memerangi hoax di berbagai platform media sosial. “Bahaya hoax nyata, seperti yang sudah dijelaskan oleh Gus Najih tadi dari pengalamannya di Suriah, karena itu saya harap Gema Rasa ini bisa bergerak dan mengajak masyarakat untuk memerango hoax dengan klarifikasi yang mencerahkan,” pesannya. (rif)