LPQ Al-Amin Semarang, Gelar Latih Biasakan Anak hidup Ala Pesantren

SEMARANG – Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ) Al-Amin menggelar kegiatan pesantren kilat selama 2 pekan untuk mengisi waktu libur sekolah. Kegiatan ini melatih anak agar terbiasa dengan pendidikan ala pesantren, juga untuk memperkuat penanaman akhlak yang mulia pada diri anak.

“Jangan sampai masa libur anak habis hanya untuk bermain, apalagi main gadget. Sudah seharusnya memanfaatkan waktu libur untuk memperkuat penanaman pendidikan akhlak pada anak,” kata Ketua Yayasan Al Amin Kradenan Lama, Imam Syafaat disela kegiatan di Kradenan Lama, Kelurahan Sukorejo, Gunungpati, Kota Semarang, Selasa (4/7).

Sejalan dengan penanaman akhlak, dosen Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang ini lantas mengingatkan agar aksi bullying pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Semarang yang sempat viral sebagai contoh perilaku negatif yang tidak boleh terulang.

“Jangan sampai ada lagi ada aksi bullying seperti yang sempat viral itu,” ucapnya.

Kegiatan dikemas menyesuaikan kebutuhan anak, sehingga kegiatan yang diikuti sekitar 200 anak ini tidak hanya berkutat pada materi ruangan saja, ada materi outbond kepemimpinan, dan sebagainya. Pada pembukaan, para peserta mengikuti jalan santai keliling wilayah Kradenan dan ditutup dengan pembagian doorprice.

Sementara, ketua Badan Koordinasi (Badko) LPQ Kecamatan Gunungpati melalui Ustadz Ahmad Sholeh, AH mengapresiasi terobosan tersebut. Ia pun meminta agar masyarakat mendukung kegiatan tersebut.

“Pesantren kilat pada masa libur sekolah ini merupakan terobosan yang baik, menarik, dan masyarakat harus mendukung hal ini,” ujarnya.

Sejalan dengan hal itu, ia pun meminta karakteristik ahlussunnah wal-jamaah (Aswaja) sebagai Islam yang membumi di nusantara bisa tertanam dengan baik. Sehingga dapat meminimalisir pergesekan yang tidak perlu di masa mendatang.

“Penanaman akidah dan amaliyah Islam aswaja atau Islam yang membumi dengan nusantara ini juga perlu mengingat model paham keislaman ini paling moderat sehingga menjadikan tatanan masyarakat religius yang santun dan saling menghormati,” ucapnya.

Wakil ketua Jam’iyyatul Qurra’ wal-Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) Kota Semarang ini juga berharap agar pesantren kilat bisa menjadi motivasi anak untuk melanjutkan pendidikan di pesantren.

“Hal lain yang tak kalah pentingnya juga mengajak anak untuk terbiasa dengan pola pendidikan pesantren, dan menarik minta anak untuk mau mondok, jadi santri,” pungkasnya. (rif)