Bangun Tenda, Puluhan Rumah Rusak Parah Akibat Tanah Gerak Di Sukorejo Gunungpati

Rumah Warga akibat tanah gerak di Jl. Pancoran 5 RT.6 RW.10 Kelurahan Sukorejo Kecamatan Gunungpati

Bankom Semarang News, SEMARANG – Penelitian dari Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjajaran Bandung oleh Muhammad Alfa Jihan dan Muchammad Yusrizhal berdasarkan data riwayat kebencanaan yang terjadi di Kota Semarang diketahui bahwa Kota Semarang memiliki permasalahan serius terhadap bencana gerakan tanah berupa tanah longsor. Salah satu daerah yang sering mengalami gerakan tanah adalah Kecamatan Gunungpati.

Daerah yang mempunyai riwayat bergerak diwilyah Semarang antara lain Desa Sadeng, Sekaran, Pugangan, Kalisegoro, dan Sukorejo. Karena pada daerah tersebut yang memiliki potensi cukup tinggi berdasarkan data bencana tanah longsor yang pernah terjadi di Kecamatan Gunungpati.

BACA : Meriahkan Harlah NU ke 95, Ansor Tugu Pawai Ta’aruf Sambil Bagikan Hand Sanitizer

Berdasarkan data kelerengan, kondisi geologi, curah hujan dan tata guna lahan Kecamatan Gunungpati kemudian data data tersebut disusun menjadi Peta Kerentanan Gerakan Tanah Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Yaitu dibagian Selatan Desa Sekaran, bagian Utara Sukorejo, bagian selatan Kalisegoro,

Minggu (31/1/2021) wilayah di Jl. Pancoran 5 RT.6 RW.10 Kelurahan Sukorejo Kecamatan Gunungpati mengalami pergeseran tanah yang relatif signifikan sehingga menimbulkan efek retakan yang cukup parah di rumah warga.

Retakan tersebut sangat terlihat dirumah warga yang bangunan bermaterialkan tembok semen dan batu bata, tak kurang dari 12 Kepala Keluarga dengan 40 Jiwa terdampak musibah tersebut, dari mulai retak ringan sampai harus dirobohkan karena bangunannya sudah sangat miring dikawatirkan membahayakan penghuninya.

BACA : Persiapan Hadapi Bencana, SAR Samapta Polda Jateng Dan SAR BANKOM Latihan Bersama Di Waduk Jatibarang.

Minggu malam (31/1/2021) warga didampingi Bhabinkamtibmas, Kelurahan dan pengurus RT dan RW setempat sedang berembug untuk mendirikan tenda sementara sebagai tempat untuk berteduh, terutama bagi warga yang rumahnya dirubuhkan karena dianggap membahayakan.

Tini (40) Salah satu warga yang terdampak menerangkan ” Kami juga belum tahu mau kemana, karna sebagian besar warga yang rumahnya retak pada ngungsi di rumah saudaranya,”

“Kami buatkan tenda sementara, sambil menunggu bantuan dari pemerintah, kami juga belum tahu apakah warga mau membangun kembali rumahnya atau mau pindah” terang Supriyono (55) selaku ketua RT setempat.(Umar/Oman)