Komite Internasional Palang Merah Berkontribusi Penanganan Covid di Jateng

Bankom Semarang News, SEMARANG – Pandemi Covid di Provinsi Jawa Tengah saat ini sedang mengalami lonjakan kasus terkonfirmasi yang cukup tinggi. Berbagai upaya pencegahan dilakukan pemerintah dan lembaga lainnya, termasuk Komite Internasional Palang Merah (ICRC – International Committee of the Red Cross).
ICRC didampingi oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kemenkumham dan Palang Merah Indonesia (PMI), ikut mengirimkan peralatan dan perlengkapan kesehatan untuk mencegah penyebaran virus.

Bantuan diberikan untuk beberapa Lapas (Lembaga Pemasyarakatan), Rutan (Rumah Tahanan), serta lembaga pendidikan keagamaan seperti Ponpes (Pondok Pesantren), Seminari, dan STIAB (Sekolah Tinggi Agama Budha) yang berada di wilayah Jawa Tengah.

Dominic Earnshaw, Koordinator Regional ICRC untuk Urusan Kemanusiaan mengatakan bahwa sasaran bantuan adalah kelompok masyarakat atau komunitas yang masuk kalangan rentan dan berpotensi tinggi terpapar Covid. Selain Jawa Tengah, ICRC juga membantu ratusan Lapas di beberapa provinsi yakni DKI Jakarta, DI. Yogyakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Sumatra Barat, Kalimantan Selatan, Papua, Papua Barat dan Sulawesi Selatan.

“Kami membantu komunitas masyarakat seperti di lapas, ponpes, dan seminar, karena di situ berkumpul banyak orang dan sangat sulit menerapkan jaga jarak fisik. Kami memberi bantuan berupa masker, handsanitezer, sabun dan berbagai alat kesehatan lainnya,” ujar Dominic saat mengunjungi Sekolah Tinggi Agama Buddha (STIAB) di Boyolali. (Rabu, 2/12).

Pengasuh Ponpes Pesantren Wali, Desa Candirejo, Tuntang – Kabupaten Semarang, yang sehari sebelumnya juga menerima bantuan, KH. Anis Maftuhin mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kepedulian dan bantuan yang diberikan ICRC yang ikut didampingi PMI.

“Saya senang, Komite Internasional Palang Merah juga ikut memberi perhatian dan dukungan guna mencegah penyebaran Covid di lingkungan pesantren,” ujarnya didampingi beberapa dewan asatid dan pengasuh ponpes lainnya di Kecamatan Tuntang.

Ponpes yang diasuhnya memiliki lebih dari 70 santri yang bermukim (Mondok) dan ratusan orang yang datang silih berganti untuk mengaji dan berdiskusi soal-soal keagamaan.

“Kami setiap hari berkumpul untuk belajar sembari tetap mengingatkan agar menjaga jarak, menggunakan masker dan sering mencuci tangan. Kami juga berharap ke depan ada perhatian khusus melalui program Usaha Kesehatan Santri, agar ponpes juga dapat berperan aktif dalam bidang kesehatan,” harap Kiai Anis.(Oman /Arh)