Ritual Malam 1 Suro Di Tugu Soeharto

Tugu Soeharto berada di tengah sungai Banjir Kanal Barat –

Bankom Semarang News, SEMARANG – Tugu Soeharto berada di pertemuan dua sungai yang berada diwilayah Kelurahan Bendan Duwur – Gajahmungkur, dari Pusat Kota tidaklah sulit untuk menuju ke arah Tugu Soeharto, lokasi depan Pasar Sampangan atau di belakang SPBU Sampangan terdapat sungai Banjir Kanal Barat.

Berada di tengah pertemuan dua arus sungai antara Kali Garang yang aliiran airnya dari Ungaran melewati Tinjomoyo dan Kali Kreo yang aliran arinya dari Gunungpati, dipertemuan dua arus sungai itu masyarakat menyebut kali tempuran yang artinya pertemuan (tempuran.Red) dua sungai menjadi satu,ditengah-tengah kali tempuran terdapat monumen berbentuk tugu dengan ketinggian sekitar 8 meter. dan dapat terlihat dengan jelas dari jembatan yang ada di sebelah utara tugu tersebut.

Sukarno (71) warga sekitar Tugu Soeharto

Menurut cerita, kala itu dalam masa perjuangan kemerdekaan RI, Soeharto saat itu berpangkat Mayor dan bertugas di Semarang mencari inspirasi ke arah selatan kota yang masih berupa hutan belantara. Soeharto melompat ke sungai dimana merupakan pertemuan dua arus sungai, kemudian menancapkan tongkat dan berendam di sana. Di titik itulah kemudian dibangun monumen yang bernama Tugu Soeharto. Masyarakat yang mempunyai keyakinan kejawen ikut melanjutkan ritual yang dilakukan Soeharto berendam atau kungkum ditempat tersebut.

Sukarno (71) sesepuh warga sekitar tugu, sabtu (10/10/2020) ditemui dirumahnya diJalan Tugu Soeharto RT. 6 RW. 4 Bendan Duwur menjelaskan “Pak Harto Presiden ke-2 Republik Indonesia ini dulu saat tempur di sini, waktu beliau terjebak lawan, beliau bersemedi di batu besar persis dipertemukan dua sungai tersebut, dan konon katanya batu besar itu sudah dibawa ke Jakarta.

“Sejak saya tinggal di sini sekitar tahun 1970 an, tugu tersebut dibangun oleh warga dan adapun anggaran dari Pemerintah Kota Semarang, Mungkin atas perintah langsung pak harto (Soeharto.Red). Sekitar tahun 1970 Tugu Soeharto Mulai menggali fondasi sampai Pembangunan selesai kemudian peresmian Tugu Soeharto tahun 1973, dan jatuh pada hari Jumat Legi Tugu Soeharto diresmikan dan didampingi oleh Almarhum Mbah Romo Diyat guru spiritual Soeharto” terangnya.

“Proses pembangunan tugu itu tidak langsung jadi, karena awal digali fondasi tugu, pernah diterjang banjir sehingga harus menggali ulang fondasi. Dulu, titik pertemuan arus kali atau tempuran ya di situ (Tugu Soeharto-red). Tapi karena faktor alam, banjir sehingga titik pertemuan arus berubah-ubah semakin ke atas,” tambahnya.

Imbuh Sukarno “Saat ini sudah ada perbaikan Tugu Soeharto dan di sekitar sungai. Seperti pembangunan talud sekeliling sungai dan tangga menuju tugu tersebut pada tahun 2001-2002. Kemudian pembangunan jembatan baru permanen tahun 2013 yang dulu jembatan besi bergoyang di atas sungai Kali Garang pengubung antara Sampangan dan Ringin Telu.”

“Kami harap Pemerintah Kota Semarang lebih memperhatikan lagi tugu Soeharto yang memiliki potensi sebagai destinasi wisata, khususnya religi saat malam pergantian tahun jawa atau malam 1 Suro” Tambah Sukarno

Saat malam pergantian tahun jawa atau disebut malam 1 Suro tidak hanya warga kota Semarang saja tetapi tidak sedikit pengunjung dari luar kota yang datang untuk melakukan ritual Kungkum atau Siram Jamas Mandi sambil keramas dikali Tempuran. dan sampai saat ini belum diketahui secara pasti manfaat kungkum saat malam 1 Suro tersebut, karna mereka yang punya hajat atau ritual belum pernah ada yang cerita.

“Sejak tahun 80-an Kegiatan ritual Kungkum ditugu Soeharto dikelola warga, dulu banyak yang datang baik laki-laki atau perempuan untuk melakukan ritual, Kebetulan malam 1 Suro kemarin sepi karna sehubungan ada Covid-19, hanya ada beberapa orang yang katanya dari Kaliwungu Kendal datang menjelang dini hari dan melakukan ritual Kungkum, dan setelah itu pulang. (Oman.B.C.31)