Krupuk Rambak Kulit Kerbau Dan Sapi Khas Pegandon Kendal

Muh Munadhirin generasi ketiga salah satu cucu H. Asnawi

Bankom Semarang News, KENDAL – Memasuki Wilayah Kecamatan Pegandon Kabupaten Kendal ada sebuah Desa kecil yang dibatasi sebelah barat kali Bodri dan sebelah timur sungai irigasi, tetapi ada sentra industri kliner olahan dari kulit kerbau dan sapi yang sudah terkenal dan sering ejadi oleh-oleh dan bawaan saat berkunjung di rumah teman ataupun saudara.

Makanan olahan krupuk rambak kulit yang terbuat dari kulit kerbau dan kulit sapi, rasa yang enak, gurih dan renyah menjadikan makanan ini menjadi makanan idola saat mendampingi makan atau sebagai jajanan penghias meja tamu saat lebaran.

Alm. H. Asnawi pertama kali membuat dan memperkenalkan rambak kulit kerbau dikampung Jagalan Desa Penanggulan Kec Pegandon Kendal

Desa Penanggulan merupakan desa sentra industri krupuk rambak kulit tersebut, satu kampung di Gang Jagalan dan Bangun RT. 02 RW.04 Desa Penanggulan Kecamatan Pegandon Kabupaten Kendal ada beberapa merk dagang krupuk rambak, ada sekitar belasan home industri rambak dikampung tersebut.

H. Asnawi adalah orang pertama kali membuat home industri rambak kulit dikampung tersebut, home industri tersebut dengan merk krupuk rambak Dwijoyo yang mana saat ini diteruskan oleh generasi ketiga keluarganya. Haji Asnawi adalah orang pertama yang mengenalkan krupuk rambak dikampung tersebut, sekitar tahun 80 an, Usaha ini didirikan oleh H. Asnawi pada tahun 1980. Usaha yang dimulai dengan coba-coba ini adalah hasil dari pemikiran beliau karena pada saat itu terdapat banyak kulit hewan ternak kerbau yang tidak dimanfaatkan oleh para pengusaha daging di Desa Penanggulan Pegandon. Usahanya dimulai dengan coba-coba namun sedikit demi sedikit diolah-alih ternyata setelah ditekuni selama 8 tahun usaha ini bisa dikatakan berhasil. Kulit-kulit tersebut diolah dan kemudian dimanfaatkan sebagai kerupuk rambak dan rambak sayur atau godril biasanya sebagai campuran masakan sambal goreng. Sehingga bisa menjadi nilai tambah bagi keluarga, mengingat beliau sendiri adalah seorang buruh yang bekerja di tempat seorang pengusaha daging hewan ternak didaerah tersebut.

Sebagai rasa hormat terhadap orang tua dan bangga dengan hasil usahanya, beliau memberi merek pada produknya dengan nama “WIJOYO”. Diambil dari gabungan nama H. Asnawi “WI” dengan nama bapaknya yaitu “JOYO” dimaksudkan agar supaya lebih dapat dikenal oleh masyarakat luas. Bentuk usaha yang masih tergolong dalam industri rumah
tangga ini kemudian dilanjutkan oleh Alm. H. Chaeroman Asnawi dengan dibantu putra putranya dan karyawan yang masih ada hubungan kerabat, saat ini Home industri tersebut di terusakan oleh generasi ketiga yaitu cucu-cucu dari H. Asnawi.

“Ada beberapa kemasan makanan ringan ini antara lain ukuran duz besar 500 gr, kemasan duz kecil 250 gr, dan ukuran lebih kecil yaitu plastik yang kami titipkan diwarung makan sekitar sini” jelas Muh Munadhirin salah satu cucu yang juga meneruskan usaha kakeknya tersebut.

“Pruduksi besar-besaran biasanya menjelang Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri, karna menjelang lebaran rambak salah satu jajanan wajib yang ada di meja tamu diwilayah Pegandon dan sekitarnya, dan juga mejadi buah tangan bagi orang yang mudik dan akan kembali lagi keperantauan atau oleh-oleh keluarga yang mengunjungi keluarganya diwilayah kendal dan mampir untuk membeli oleh-oleh khas Kendal ini, dan kami biasanya akan mendapat banyak bahan baku kulit kerbau atau kulit sapi saat Idul Adha, banyak warga yang kurban dan kami biasa ambil dari luar daerah” jelas Sentot panggilan akrab pengusaha muda ini. (Oman Bjg.C.3.1)